Metro Memisahkan Diri Dari Desa Induk Trimurjo

Berdasarkan penelusuran jejak sejarah Kota Metro berdasarkan beberapa foto yang dilacak dari arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daera...


Berdasarkan penelusuran jejak sejarah Kota Metro berdasarkan beberapa foto yang dilacak dari arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Metro dan arsip Digital Collection Leiden University Libraries, ditemukan bahwa kolonisasi yang didatangkan dari Pulau Jawa tidak langsung disebar ke beberapa tempat-tempat tersebut di atas, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu di daerah Gedong Dalem. Di Gedong Dalam itu mereka menempati rumah bedeng yang ditata secara berurutan sebagai tempat tinggal sementara para kolonis, sebelum disebar ke beberapa daerah yang sekarang di kenal dengan nama bedeng-bedeng, mulai dari Bedeng 1 sampai dengan Bedeng 67.


Gambar 1: Penampungan Kolektif (Rumah Beddeng) Para Koloni di Gedong Dalam



Pendapat tersebut sesuai dengan tulisan Akhmad Sadad dalam buku Land Use Planing, Jejak Kolonisasi Pertama di Indonesia (2014). Menurutnya, sejak Pemerintah Hindia Belanda membuka daerah baru, yakni Gedong Dalam Sukadana, sejak tahun 1932-1934 karena banyaknya jumlah kolonisasi yang berada di Gedong Tataan mencapai 29.863 jiwa, sejak saat itu pula Belanda melaksanakan sistem bawon terhadap kolonisasi, yakni mekanisme perpindahan penduduk yang dibiayai oleh keluarga atau kolonis yang lebih dulu pindah, sehingga otomatis koloni baru akan ditampung terlebih dahulu di tempat keluarga atau kolonis lama, sehingga mereka mendapatkan pembagian lahan dan dapat membuat rumah.

Keluarga kolonis yang datang untuk sementara masih tinggal di rumah kolonis ketika sampai pertama kali dan bekerja kepada kolonis dengan membantu memanen. Ketika panen selesai, kolonis kemudian membagi hasil panen kepada keluarga yang membantu mereka yang telah menjadi kolonis baru. Sementara itu, pemerintah Belanda menyiapkan lahan yang akan digarap kolonis baru. Pemerintah juga mendirikan bedeng-bedeng sebagai tempat tinggal sementara kolonis baru. Kolonis baru tinggal di bedeng sampai dapat membangun rumah sendiri.[1]

Pandangan Akhmad Sadad sesuaidengan hasil penelusuran Kian Amboro, dengan mengutip pendapat Syamsu (1959: 47-48) ia mengatakan bahwa Sukadana mulai dibuka secara bertahap sejak tahun 1932, dan Trimurjo diresmikan sebagai induk desa (Bedding 1) pada 3 April 1935.[2] Artinya ada rentang waktu selama 3 tahun sejak kedatangan kolonis pertama di Gedong Dalam Sukadana, yang menjadi bukti bahwa para kolonis tidak langsung ditempatkan di Trimurjo, terlebih dengan adanya sistem bawon yang dijalankan Pemerintah Hindia Belanda.

Kian Amboro, melalui tulisan Kota Metro 81 Tahun Lalu dan Sekarang, juga menegaskan bahwa tanggal 9 Juni 1937 (yang belakangan ditetapkan sebagai hari jadi atau hari ulang tahun Kota Metro), ada dua upacara peresmian; Pertama, peresmian tugu atau monumen setinggi 4 meter, yang terletak di tengah-tengah kota dan di perempatan jalan utama. Tugu yang berlabel marmer pada bagian depannya, terukir sebuah kalimat Ter herdenking aan het succesvolle kolonisatiewerk van den resident H.R. Rookmaaker, 1933-1937 (untuk mengenang keberhasilan kerja kolonisasi Residen H.R. Rookmaaker, 1933-1937). Pada bagian sebaliknya tertulis dengan aksara Jawa dengan makna yang sama.

Peresmian tugu yang kemudian dikenal sebagai Tugu Meterm inilah yang diyakini sebagai asal usul nama Metro. Meski hingga kini terdapat dua versi sejarah soal penaman Metro. Pertama nama Metro berasal dari kata “Meterm” dalam bahasa Belanda yang artinya “pusat", menunjukkan daerah Metro berada di tengah-tengah antara Lampung Tengah dan Lampung Timur, bahkan ditengah (center) Provinsi Lampung. Kedua, nama Metro berasal dari kata Mitro (bahasa Jawa) yang berarti teman, mitra, kumpulan. Hal tersebut dilatarbelakangi dari kolonisasi yang datang dari berbagai daerah di luar wilayah Sumatra yang masuk ke daerah Lampung. Namun, yang dianggap paling relavan adalah, Metro berasal dari bahasa Belanda, didukung dengan sejarah berdirinya sebuah landmark berupa tugu atau monumen yang dikenal dengan nama Tugu Meterm, terletak di tengah-tengah kota, dan di perempatan jalan utama

Gambar 2: Peresmian Tugu/Monumen di Tengah Kota Metro, 9 Juni 1937


Kedua, peresmian pendopo Asisten Wedana Metro sekaligus peresmian Metro yang telah dipisahkan dari induk desanya, Trimurjo. Pendapat ini sekaligus membantah pendapat bahwa nama Trimurjo diganti menjadi Metro, sebagaimana selama ini tersebar.


Gambar 3: Kantor Asisten Wedana Metro diresmikan 9 Juni 1937

Peresmian yang dihadiri oleh masyarakat, tamu-tamu (Binnenland Bestuur/BB) yang terdiri dari Ambtenaar (pegawai pemerintah) berkebangsaan Eropa dari Telukbetung, sebagian detasemen KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger/Tentara Kerajaan Hindia Belanda), para pejabat penting Pemerintahan Hindia Belanda seperti Mr.  Bohnemann, Kepala Pemerintahan Daerah Sukadana, Mr. Lassacquere. Acara tersebut dilaksanakan menurut tatacara Belanda, menyanyikan lagu kebangsaan Wilhelmus, dilanjutkan dengan sambutan dan acara peresmian serta  ditutup dengan penyerahan keris kepada Asisten Wedana Metro oleh Residen Rookmaaker dan bersama-sama menyaksikan hiburan dari rakyat.

Menurut Kian, momentum tersebut menjadi catatan sejarah mahapenting, karena selain peresmian Metro sebagai pusat pemerintahan kolonisasi di Sukadana, juga berisi pengakuan Residen Rookmaaker yang disampaikan lewat pidatonya, dalam bahasa Melayu yang fasih bahwa Metro adalah hasil dari kerja keras para kolonisasi mengubah hutan-hutan purba menjadi sebuah metropolis. Peristiwa bersejarah itu ditulis dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, yang terbit pada tanggal 12 Juni 1937 dan Indische Courant, terbit tanggal 15 Juni 1937 dan Java Post, dengan judul Verhalen over Nederlands-Indie, Een land met toekomst – Koloniale Monumenten; Resident Rookmaaker, Metro, 1937).

Peristiwa pengesahan Asisten Wedana Metro oleh Pemerintah Hindia Belanda ini, sebulan sebelumnya, tanggal 17 Mei 1937 telah ada keputusan besar yakni keputusan rapat Dewan Marga yang memberikan daerah kolonisasi (Metro) yang sebelumnya masuk Buay Nuban kepada saudara mereka yang menjadi koloni dengan melepaskannya dari hubungan marga. Menurut Ahmad Muzakki, penyerahan ini didahului proses negosiasi antara Pemerintah Belanda melalui seorang kontroler yang memimpin onderafdeeling Sukadana dengan para Dewan Marga masyarakat adat Lampung di wilayah onderafdeeling Sukadana, membahas persiapan lahan bagi terwujudnya proyek kolonisasi.[3]

Menurut Ahmad Muzakki, dari penyerahan lahan yang luas oleh Dewan Marga masyarakat adat Lampung kepada pemerintah Kolonial Belanda tersebut, banyak hal positif yang diperoleh pemuka adat yang memiliki pemikiran yang progresif. sehingga oleh para pemuka adat, “pembebasan” wilayah ini secara strategis dapat memberikan dampak yang positif, yaitu terbukanya akses baru yang lebih singkat antara Tegineneng dengan Gedong Dalem, yang sebelumnya harus dilalui secara memutar.[4]

Sejak Metro menjadi tempat kedudukan Asisten Wedana dan sebagai pusat pemerintahan Onder District Metro, dengan Raden Mas Sudarto sebagai As Asisten Wedana (Camat) yang pertama, perkembangannya semakin pesat, karena Pemerintah Kolonial Belanda memang telah mempersiapkan penataan daerah kolonisasi ini dengan baik, yaitu dengan mengadakan pengaturan untuk daerah pemukiman, daerah pertanian, tempat-tempat perdagangan, jaringan jalan raya, tempat-tempat untuk pembangunan berbagai fasilitas sosial, jaringan saluran irigasi, untuk perkantoran, lapangan, dan taman-taman. Dengan kata lain, Pemerintah Kolonial Belanda telah menggariskan land use planning daerah.

Menurut Kian Amboro[5], pola tata ruang Metro dirancang mengkombinasikan pola tata ruang tradisional Jawa (Catur Gatra Tunggal/Catur Sagotrah). Karena yang dipindahkan adalah masyarakat Jawa dengan pola tata ruang Barat yakni ‘Konsep Poros’. Hal ini karena proses kolonisasi di Metro dilaksanakan menurut peraturan kolonisatie in marga verband. Pembangunan desa-desa awal kolonisasi pada 3 tahun pertama dikelola oleh Eropeesch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Belanda), dibantu pegawai-pegawai Inlandsch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Pribumi) yang didatangkan dari Jawa (Asisten Wedana dan Wedana). Setelah tiga tahun dan apabila desanya sudah dibangun menurut pola di Jawa, maka desa tersebut diserahkan kepada Pemerintah Marga.

Maka tak heran, jika tata ruang Kota Metro (seperti halnya beberapa kota lain di Indonesia), menempatkan beberapa unsur seperti, tempat ibadah (masjid/gereja), alun-alun, pasar dan pusat pemerintahan sebagai unsur yang integral dikenal juga dengan istilah civic center, karena Metro merasakan sentuhan-sentuhan Eropa dalam pembangunan dan pengembangan pola tata ruangnya. Meskipun semua warga kolonis berasal dari Jawa yang berimplikasi pada pembangunan tata ruang Jawa, tetapi ada ciri kota modern yang dipersiapkan sejak awal wilayah ini dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tak heran dalam waktu kurang dari satu dekade sejak daerah ini (Metro) ditempati kolonis, statusnya berubah menjadi pusat pemerintahan di mana Asisten Wedana berkedudukan.

Kedudukan Metro sebagai Asisten Wedana ini sempat berubah begitu Jepang masuk, berberangan dengan diubahnya Residente Lampoengsche Districten menjadi Lampung Syu yang dibagi dalam 3 (tiga) Ken, yaitu: Teluk Betung Ken, Metro Ken, dan Kotabumi Ken. Pada waktu itu Metro Ken terbagi menjadi Gun, Son, marga-marga dan kampung-kampung. Ken dikepalai oleh Kenco, Gun dikepalai oleh Gunco, Son dikepalai oleh Sonco, Marga dikepalai oleh seorang Margaco, sedangkan Kampung dikepalai oleh Kepala Kampung.[6]

Namun itu tak bertahan lama, menurut data Bappeda Kota Metro, setelah Indonesia merdeka dan dengan berlakunya pasal 2 Peraturan Peralihan UUD 1945, maka Metro Ken masuk menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Tengah. Dan berdasarkan Ketetapan Residen Lampung No. 153/D/1952 tanggal 3 September 1952 yang kemudian diperbaiki pada tanggal 20 Juli 1956 ditetapkan:
1.    Menghapuskan daerah marga-marga dalam Keresidenan Lampung.
2.    Menetapkan kesatuan-kesatuan daerah dalam Keresidenen Lampung dengan nama Negeri, yang berjumlah 36 Negeri.
3.    Hak milik marga yang dihapuskan menjadi milik negeri yang bersangkutan.

Dengan dihapuskannya Pemerintahan Marga maka sekaligus sebagai gantinya dibentuk Pemerintahan Negeri. Pemerintahan Negeri terdiri dari seorang Kepala Negeri dan Dewan Negeri, Kepala Negeri dipilih oleh anggota Dewan Negeri dan para Kepala Kampung. Negeri Metro dengan pusat pemerintahan di Metro (dalam Kecamatan Metro). Dalam perjalanan, dirasakan kurangnya keserasian antara pemerintahan negeri, keadaan ini menyulitkan pelaksanaan tugas pemerintahan, Oleh sebab itu Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Lampung, pada tahun 1972 mengambil kebijaksanaan untuk secara bertahap menghapus Pemerintahan Negeri, dan menyerahkan hak dan kewajiban Pemerintahan Negeri kepada kecamatan setempat.

Seiring dengan perjalanan waktu, Kota Metro sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Kota Metro dan Ibukota Kabupaten Lampung Tengah ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif, yaitu pada stanggal 14 Agustus 1986 berdasarkan Peraturan pemerintah Nomor 34 Tahun 1986. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri, Letjen TNI Soeparjo Rustam pada tanggal 9 September 1987.




[1] Akhmad Sadad, Land Use Planning, Jejak Kolonisasi Pertama di Indonesia, Banten: Penerbit 3M Media Karya, 2014
[3] Ahmad Muzakki, Metro Sebuah Kajian Etnografi Menemukenali Geneologi Kota Metro, Metro: Disdikbudpora Kota Metro, 2014. h. 27. Pendapat ini juga sejalan dengan apa yang ditulis oleh Patrice Levang bahwa negosiasi yang dilakukan di tingkat daerah antara pemerintah kolonial dan wakil marga yang bersangkutan, menentukan batas pengembangan penempatan migran. karena sangat rendah kepadatan penduduk bagian selatan Sumatra (12 jiwa per km²) pada tahun 1930-an, marga-marga menyerahkan banyak lahan yang luas dengan senang hati. Lihat Patrice Levang, Ayo Ke Tanah Sabrang, Transmigrasi Di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003. h. 131
[4] Ibid, h. 28
[5] Kian Amboro, ‘Mengamati Metro dari Atas dan Masa Lalu, Kolom Rilis.Id, 07 Maret 2018. http://lampung.rilis.id/Mengamati-Metro-dari-Atas-dan-Masa-Lalu.html diakses tanggal 17 Juli 2019, Pukul 00.15

COMMENTS

Name

Ekonomi,2,Galeri Artikel,6,Galeri Foto,8,Galeri Video,22,Hukum,6,Metro Terkini,2,Pendidikan,4,Politik,2,Wisata Kuliner,1,Wisata Metro,8,
ltr
item
Metro Galery: Metro Memisahkan Diri Dari Desa Induk Trimurjo
Metro Memisahkan Diri Dari Desa Induk Trimurjo
https://1.bp.blogspot.com/-Cj6cj0RAYJ8/XlES4NhCu9I/AAAAAAAAGpo/u1zg2-qrGpYx_db31Xs8_DIditVOsmGbwCLcBGAsYHQ/s640/Rumah%2BBedeng-Bedeng.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Cj6cj0RAYJ8/XlES4NhCu9I/AAAAAAAAGpo/u1zg2-qrGpYx_db31Xs8_DIditVOsmGbwCLcBGAsYHQ/s72-c/Rumah%2BBedeng-Bedeng.jpg
Metro Galery
https://www.metrogalery.com/2020/02/metro-memisahkan-diri-dari-desa-induk.html
https://www.metrogalery.com/
http://www.metrogalery.com/
http://www.metrogalery.com/2020/02/metro-memisahkan-diri-dari-desa-induk.html
true
3089767344716215635
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy