Metro dalam Ragam Cerita Sejarah Kota Metro muncul dalam beragam versi. Ada sumber yang menyebutkan bahwa Metro bermula dar...
Sekilas Sejarah Kota Metro (Bagian Pertama)

Sekilas Sejarah Kota Metro (Bagian Pertama)



Metro dalam Ragam Cerita




Sejarah Kota Metro muncul dalam beragam versi. Ada sumber yang menyebutkan bahwa Metro bermula dari perluasan daerah kolonisasi yang ada di Gedong Tataan. Sebagaimana diketahui, Gedong Tataan adalah daerah kolonisasi pertama di Lampung yang dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1905. Hal tersebut diungkapkan oleh Eko Sunu Sutrisno, Kepala Seksi Pelayanan Museum Transmigrasi Lampung bahwa ada 815 orang yang terdiri dari 155 Kepala Keluarga (KK) beserta anggota keluarganya yang berjalan kaki selama dua hari menuju Gedong Tataan, setelah sebelumnya menempuh perjalanan laut dan tiba di pelabuhan kecil di Teluk Betung.[1]

Menurut Eko, sebagaimana dikutip dari tulisan Jejak Transmigran Jawa di Lampung, nama daerah yang ditempati oleh para koloni itu kemudian dinamai Bagelen. Nama Bagelen diambil dari nama daerah asal para koloni yang berada di wilayah Purwerejo. Penuturan serupa juga dapat ditemukan dalam buku Transmigrasi Indonesia 1905-1985 (1986) karya Slamet Poerboadiwidjojo, “Desa inti pertama dibangun pada tahun 1905 di Gedong Tataan, kira-kira 25 km di sebelah baratnya Tanjungkarang di pinggir jalan ke Kota Agung. Pembangunan desa ini ditangani sendiri oleh Hayting, yang membangun desa itu dengan pola dari Jawa.” Desa Bagelen kini masuk dalam wilayah Kecataman Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.[2]

Setelah 155 KK tiba di Gedong Tataan tahun 1905, secara bergelombang para koloni itu terus berdatangan. Tahun berikutnya, 550 KK bersama anggota keluarganya dengan jumlah total 2.795 orang kembali didatangkan oleh Belanda dari daerah asalnya, Banyumas. Proses kolonisasi itu terus berlanjut hingga tahun 1943, hingga jumlahnya mencapai 51.006 KK (206.361 jiwa). Mereka berasal dari berbegai daerah, seperti Kedu, Kediri, Tulungagung, bahkan ada sebagian berasal dari orang-orang Jawa yang bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan milik Belanda di Deli.

Meningkatnya jumlah koloni itu, mendorong Belanda untuk menjadikan daerah Kota Agung sebagai tujuan kolonisasi sejak ahun 1922 hingga 1928. Pada tahun 1932, para mantan pekerja perkebunan di Deli, juga mulai diarahkan masuk Keresidenan Lampung, mereka ditempatkan di sekitar Gedong Tataan dan Sukadana.

Menurut Slamet Poerboadiwidjoyo, setelah Gedong Tataan penuh, maka untuk melanjutkan usaha pemindahan penduduk itu dicarikan tempat lain, sedapat-dapatnya tidak jauh dari Gedong Tataan. Pilihan jatuh pada hutan cadangan milik warga di daerah Sukadana yang sekarang terkenal sebagai daerah transmigrasi Metro. Sebelum 1935, daerah ini telah ditempatkan sekelompok kolonisten, tapi pengiriman secara besar-besaran baru dimulai pada 1935 setelah diadakan persiapan-persiapan yang lebih memadai.[3]

Dalam versi lain ada yang menyebutkan bahwa Kota Metro bermula dari dibangunnya sebuah desa induk baru bernama Trimurjo pada antara tahun 1934 dan 1935. Pembangunan desa tersebut dimaksudkan untuk menampung sebagian kolonis yang terus didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu juga dibentuk onder distrik yaitu Pekalongan, Batanghari, Sekampung dan Trimurjo. Kelima onder distrik ini mendapat rencana pengairan teknis yang berasal dari Way Sekampung yang pelaksanaannya dilangsungkan oleh para kolonisasi-kolonisasi yang sudah bermukim di bedeng-bedeng dimulai dari Bedeng 1 bertempat di Trimurjo (Lampung Tengah) dan Bedeng 62 di Sekampung (Lampung Timur).

Sedangkan bedeng-bedeng yang masuk wilayah Kota Metro antara lain adalah; Bedeng 14-I, 14-II, 14-III, 14-IV, 16, 16a, 16b, dan 16c (Kecamatan Metro Barat), Bedeng 25, 25a, 25b, 26a, 26b, dan 27 (Kecamatan Metro Selatan), Bedeng 15a, 24 dan 21(Kecamatan Metro Timur), Bedeng 15, 15b, 21b, 21c, 21d, 22 dan 22a (Kecamatan Metro Pusat), Bedeng 23, 28, 29 (Kecamatan Metro Utara). Uniknya, hingga kini, di Kota Metro lebih mudah menemukan daerah dengan sebutan bedeng-bedeng tersebut, misal lebih mudah mengenali nama 15a daripada Iringmulyo, 16c dibanding Mulyojati, lebih enak bicara daerah 22 dibanding Hadimulyo. Lebih populer di masyarakat nama 21c dibanding Yosomulyo. Isitilah 15a, 16c, 21c, 22 itu adalah sebutan untuk kampung/wilayah yang lebih dikenal dengan Bedeng.


Namun, berdasarkan penelusuran jejak sejarah Kota Metro berdasarkan beberapa foto yang dilacak dari arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Metro dan arsip Digital Collection Leiden University Libraries, ditemukan bahwa kolonisasi yang didatangkan dari Pulau Jawa tidak langsung disebar ke beberapa tempat-tempat tersebut di atas, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu di daerah Gedong Dalem. Di Gedong Dalam itu mereka menempati rumah bedeng yang ditata secara berurutan sebagai tempat tinggal sementara para kolonis, sebelum disebar ke beberapa daerah yang sekarang di kenal dengan nama bedeng-bedeng, mulai dari Bedeng 1 sampai dengan Bedeng 67.


Bersambung ....



[1] https://tirto.id/jejak-para-transmigran-jawa-di-lampung-cidw diakses tanggal 11 Juli 2019 Pukul 16.26
[2] Ibid
[3] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Transmigasi Masa Doelo, Kini dan Harapan Ke Depan, Jakarta: Dirjen Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Pemukiman Transmigrasi, 2015. h. 4. Bandingkan dengan Jejak Transmigran Jawa di Lampung, dalam https://tirto.id/jejak-para-transmigran-jawa-di-lampung-cidw diakses tanggal 11 Juli 2019 Pukul 16.26

Read more »
 Mengamati Metro dari Atas dan dari Masa Lalu

Mengamati Metro dari Atas dan dari Masa Lalu

Citra Satelit Kota Metro (Pusat Kota), Galeri Kota Metro

Pernahkan anda membuka aplikasi peta Google (Google Map), dan mengamati Kota Metro dari atas. Daerah kolonisasi yg dipelajari oleh Pemerintah Hindia Belanda mulai tahun 1932 ini dirancang mnjadi sebuah ruang hunian yg sangat sistematis dan terencana (boleh dikatakan jg sbg pusat kota), tak heran jika sekarang jarang kita jumpai jalan-jalan buntu ada di Metro, setiap jalur dan jalan saling bersilang satu sama lain. Hal ini dikarenakan Metro sebelumnya memang telah melalui tahap perencanaan dan penataan yg matang oleh Pemerintah Hindia Belanda, baru kemudian didatangkan para kolonis utk menempatinya.

Sedikit berbeda dengan daerah kolonisasi lainnya di Indonesia, Gedong Tataan misalnya sebagai lokasi pertama kolonisasi tahun 1905 yg sepenuhnya menganut pola tata ruang publik di Jawa (Catur Gatra Tunggal), pola tata ruang Metro dirancang mengkombinasikan pola tata ruang tradisional Jawa (Catur Gatra Tunggal/Catur Sagotrah) - krn yg dipindahkan adalah masyarakat Jawa - dengan pola tata ruang Barat yakni Konsep Poros.

Hal ini karena proses kolonisasi di Metro dilaksanakan menurut peraturan kolonisatie in marga verband. Pembangunan desa-desa awal kolonisasi pada 3 tahun pertama dikelola oleh Eropeesch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Belanda) dibantu Pegawai-pegawai Inlandsch Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja Pribumi) yg didatangkan dari Jawa (Asisten Wedana dan Wedana). Setelah 3 tahun dan apabila desanya sdh dibangun menurut pola di Jawa, maka desa tsb diserahkan kpd Pemerintah Marga (Sri-Edi Swasono, 1985:13).

Jadi pd masa awal Metro, selama 3 tahun pertama merasakan sentuhan-sentuhan Eropa dalam pembangunan dan pengembangan pola tata ruangnya. Sebagaimana yg dikemukakan di atas, meskipun semua warga kolonis adalah berasal dari Jawa yg berimplikasi pda pembangunan tata ruang Jawa, tetapi ada ciri kota modern yg dipersiapkan sejak awal wilayah ini dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tak heran dalam waktu kurang dari satu dekade sejak daerah ini (Metro) ditempati kolonis, statusnya berubah menjadi pusat pemerintahan dimana Asisten Wedana berkedudukan.

Konsep tata ruang Catur Gatra Tunggal/Catur Sagotrah merupakan tata ruang yg unik, banyak kita jumpai berbagai daerah, terutama yg bermasyarakat Jawa atau daerah bekas kerajaan-kerajaan di Jawa jaman dahulu. Konsep ini disebut jg dgn civic center yg brarti bgian dari kota yg secara spasial mnjdi pusat bagi brbagai mcm kgtn msyarakat penghuninya (Kostof, 1992:80-81)

Konsep ini menempatkan 4 unsur utama (catur) sbg satu kesatuan (tunggal). Yakni pusat pemerintahan, pasar, alun-alun, dan masjid, yg mewakili ruang politik, ekonomi, sosial, dan spiritual dlm satu kesatuan. Dalam filosofi Jawa 4 unsur/tempat ini hrus ada, mskipun masing2 berdiri sndiri secara trpisah satu sama lain, namun dihubungkan dg jalan maupun koridor-koridor. Catur Gatra Tunggal tidak ditemukan di luar Indonesia & mnjdi sbuah nilai kearifan lokal.

Sekarang silahkan diamati utk Kota Metro, dapatkah anda menentukan letak 4 unsur tadi secara stu kesatuan, dimanakah letak/posisi pusat pemerintahan (rumah/kantor walikota, kantor pemerintahan), pasar (shopping center, pasar pagi, M3), alun-alun (lapangan/taman Merdeka), dan pusat aktivitas spiritual (Masjid Taqwa). Apakah letaknya saling berdekatan, dapatkan anda mnemukan prbedaan dg pola tata ruang tradisional msyrakat setempat?

Sedangkan konsep tata ruang Poros adalah struktur tata ruang yg menekankan pada pentingnya keberadaan & kelancaran jalur transportasi yg dpt memberikan pengaruh sangat besar trhdp struktur ruang kota, teori ini dikemukakan oleh Babcock th 1932. Dapat diamati pd gmbar pola tata ruang poros dg tata ruang Metro saat ini, dimana jalan2 mmbntuk poros utama pusat aktivitas masyarakatnya. Konsep tata ruang Poros, pesatnya prtumbuhan pnduduk dan ekonomi (dibndingkn daerah kolonisasi lainnya dimasanya) dtmbah letak geografis Metro yg sjak awal brada di posisi "meterm" (pusat) mnjadikan Metro sbg pusat kedudukan Asisten Wedana, pusat pemerintahan Metro ken, brlanjut sbg ibukota Kab. Lampung Tengah, dn kini mnjadi Kota Metro.

Dapatkah anda mencermati kombinasi unsur tradisional dan modern pda struktur tata ruang di Metro?

Jika boleh berhipotesis bisa jadi Metro sejak awal didesain sbg kota metropolitan yg besar dn tata ruang yg sistematis, dgn daerah2 penyangga (istilah skrng kota satelit) di sekitarnya (bedeng 1-70), tpi tk terwujud krna Belanda sdh angkat kaki dari tanah air tercinta kita ini dn tak bisa mwujudkan masterplan-nya.

Lalu apakah kita harus mempertahankan warisan Pemerintah Kolonial Belanda di era Kemerdekaan ini? atau menyesali angkat kakinya Belanda dri tanah air tercinta kita ini?

Tentunya jwaban kita tidak sesempit & sebodoh itu, setidaknya jika kita memahami bgaimana Metro sejak awal didesain dan dirancang, dpt kita jadikan prtimbangan bgaimana merancang & menata Metro di masa yg akn datang.

Jika dianalogikan, jgn sampai Metro mnjdi seperti Jakarta yg gagal mengelola sumber daya air yg melimpah shingga mnimbulkan banjir, pdhal Pemerintah Batavia di masa lalu sbg perancang kota tsb, dapat mengelolanya dgn baik.

Oleh karenanya, mari belajar dari sejarah.

Penulis : Kian Amboro (Dosen Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro)
Read more »
Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro

Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro

Menemukan Jejak Arsitektur Indis di Metro, Rumah Dinas Depan RSU A. Yani


Ada yang nampak berbeda jika kita sedikit mencermati beberapa sudut Kota Metro. Di tengah hiruk pikuk ramainya kota, pesatnya pertumbuhan pembangunan kota, ada yg tenang dan diam dalam kelampauannya. Sejumlah bangunan-bangunan yang kini tak lgi muda usianya, saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Metro. Sederet bangunan tua bergaya kolonial, mungkin sama tuanya dg usia kota kolonisasi ini.

Meskipun belum ada hasil kajian/penelitian yang menyebutkan bahwa beberapa bangunan di Kota Metro adalah bangunan berarsitektur Indis atau bergaya kolonial, akan tetapi dari ciri-ciri yang nampak, mudah diidentifikasi.

Sepertinya keberadaan rumah-rumah berarsitektur kolonial/Indis ini belum semua terinventarisasi oleh Pemerintah Kota Metro, sehingga data lengkap yang pasti mengenai hal ini juga belum ada.

Istilah "Indis" adalah berasal dari "Nederlandsch Indie" atau Hindia Belanda. Bangunan-bangunan Indis sesungguhnya adalah bagian dari Budaya Indis. Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dgn kondisi tropis dan lingkungan budaya setempat.

Sebagai fenomena historis, gaya hidup & budaya Indis sangat erat hubungannya dgn faktor politik kolonial. Situasi pemerintahan kolonial mngharuskan penguasa bergaya hidup, berbudaya, serta membangun gedung & rumah tinggalnya (landhuizen) mnggunakan ciri yang berbeda dgn rumah pribumi. Kebanyakan bangunan-bangunan itu berfungsi selain sebagai tmpat tinggal pejabat sipil dan militer, juga bangunan fasilitas sosial, & perkantoran administrasi (Soekiman, 2014:9-10)

Metro sebagai ibukota kolonisasi Sukadana (Sjamsu, 1956:47) tentunya memiliki peran yang sangat strategis sebagai pusat pemerintahan dimana Asisten Wedana berkedudukan. Tidak sulit menemukan bbrapa bangunan bergaya Indis di Metro, karena dari tampilan luar sangat berbeda dengan arsitektur saat ini.

Misal jika kita mau singgah di Jalan Jend. Sudirman no 137 (depan dealer Suzuki), kita akan mnjumpai bangunan lama yang tak berpenghuni. Pada bangunan ini ciri arsitektur kolonial nampak pada penggunaan batu alam pada dinding bgian depan, pintu terletak tepat di tengah diapit jendela di sisi kanan kiri, serta bentuk jendela yang geometris dilengkapi teritis agar air hujan tidak lngsung masuk ke dalam. Bangunan ini dilengkapi paviliun (bangunan tmbahan) di sisi kiri dan kanannya. Pada bagian atas pintu dijumpai sebuah cermin kecil, menandakan bangunan ini dimiliki oleh keluarga Tionghoa. Sayang sekali blm ada informasi tentang riwayat bangunan antik ini.

Masih di Jalan Jendral Sudirman (samping bekas dealer Yamaha, sblum Bank BCA) ada bangunan tinggal brwarna hijau yang unik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bangunan hunian dengan gaya arsitektur tersebut, disebut dengan Rumah Jengki. Rumah dgn gaya arsitektur Jengki ini dapat dijumpai di Jalan Jend. Sudirman, Kota Metro. Rumah ini berciri khas atap pelana, bangunan asimetris, biasanya terdapat batuan alam yang menempel di dinding, serta adanya lubang angin di bagian dinding atas.

Pengaruh Barat juga terlihat dari pintu yg terletak tepat di tengah diapit dengan jendela-jendela pada sisi kiri dan kanan, dan adanya bangunan samping (bijgebouwen) berbentuk huruf "L" atau "U".

Bangunan lainnya adalah, bangunan bekas rumah tinggal mantri kesehatan di Metro ketika awal kolonisasi (1935). Bangunan ini terletak persis berhadapan dengan RSUD A. Yani Kota Metro. Ciri bangunan berarsitektur kolonial dapat juga dijumpai pada bangunan ini. Kondisi bangunan kini tertutup pagar yang cukup tinggi dan tertutup rimbunnya pepohonan. Tak jauh dari situ, ada salah satu bangunan Kantor RSUD Jend. Ahmad Yani, Kota Metro. Keunikan bangunan ini dibandingkan bangunan disekitarnya adalah keberadaan lubang-lubang angin berbentuk bulat pada bagian atas dan keberadaan teritis di atas pintu dan jendela mnjadi salah satu ciri bangunan berarsitektur kolonial.

Lubang-lubang angin ini sangat mirip dengan bentuk lubang "bestion" di benteng-benteng pertahanan Belanda, utk mengintai atau menempatkan senjata. Untuk saat ini belum diketahui juga bagaimana riwayat bangunan ini.

Arsitektur kolonial juga dapat diamati pada bangunan Rumah Sakit Bersalin Santa Maria, Kota Metro. Dahulu pada tahun 1938 adalah bangunan klinik kesehatan yakni Roomsch Katholieke Missie. Tidak hanya beberapa bangunan tersebut sja, masih banyak lagi bangunan di Kota Metro yg bergaya Indis/kolonial dan menarik dicermati dari sisi sejarahnya. Tidak hanya dari sisi bangunan, Pasar Malam yang menjadi ciri khas Kebudayaan Indis juga dijumpai di Kota Metro. Even tahunan ini rutin diselenggarakan ketika memperingati hari jadi Kota Metro.

Arsitektur Indis tidak hanya berlaku utk tempat tinggal semata tetapi mencakup bangunan lain seperti stasiun kereta api, kantor pos, gedung perkumpulan, pertokoan, dll. Bangunan-bangunan berarsitektur Indis juga tidak selalu dimiliki oleh pejabat Pemerintah Hindia Belanda. Gaya arsitektur yang mewakili status sosial tinggi dalam masyarakat mnjadikan gaya bangunan Indis sebagai standar bagi kelas masyarakat yg berkecukupan, terutama pedagang dan etnis tertentu, agar mereka juga mendapatkan kesan status sosial yg tinggi layaknya pejabat pemerintah (penguasa) atau priyayi.

Jika kita mau melihat lebih jeli dan meluaskan pandangan, sesungguhnya keberadaan beberapa bangunan ini bukan sekedar warisan rongsokan masa lalu yg membebani perkembangan kota modern, tetapi dapat juga bermanfaat sebagai aset di masa sekarang dan di masa depan.

Warisan sejarah ini menjadi penting bagi Kota Metro yg memiliki visi Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga. Jika warisan masa lampau ini mendapat perhatian yang lebih, dan dapat dikemas dgn baik sangat potensial dikembangkan menjadi program wisata edukasi sejarah, seperti halnya kota-kota kolonial di Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Pontianak, Makassar dan kota-kota lainnya di Indonesia yang mampu mengambil pelajaran dan memanfaatkan dengan bijak warisan sejarahnya.

Penulis: Kian Amboro (Dosen Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro)
Read more »
Pementasan "Putri Sumur Bandung" oleh Rombongan Seni-One Kota Metro (Bagian 1)

Pementasan "Putri Sumur Bandung" oleh Rombongan Seni-One Kota Metro (Bagian 1)

Video "Putri Sumur Bandung" adalah pertunjukan yang disutradarai oleh Andika Gundoel Septian bercerita tentang soal Sumur Putri dikenal juga dengan nama Sumur Bandung yang terletak persis di belakang eks Gedung Wanita Kota Metro.
Selengkapnya baca di http://www.omah1001.net/2017/12/menikmati-sejarah-sumur-putri-lewat.html
Read more »
Video Wisata Dam Raman yang Semakin Keren

Video Wisata Dam Raman yang Semakin Keren


Dalam video ini terlihat Dam Raman semakin keren. Ada banyak sarana bermain dan hiburan. Dam Raman benar-benar telah berubah menjadi tempat wisata alternatif yang murah dan meriah. Inisiasi Komunitas Ayo Ke Dam Raman bersawa warga setempat, kini telah membuahkan hasil dan sukses memberdayakan lokal, karena selain mampu menghadirkan tempat wisata murah untuk warga Kota Metro, Dam Raman sebagai tempat wisata juga sukses menggerakan ekonomi warga.
Read more »
Kota Metro Dalam Tiga Menit

Kota Metro Dalam Tiga Menit


Video ini dibuat dalam kerangka memperkenalkan Kota Metro sebagai kota yang ramah dan nyaman untuk berinvestasi. Memotret Metro hampir dari semua sudut dan bidang.
Read more »
Beranda

Galeri Video